Akhirnya, Senyuman Penari Kecil itu…
Pagi itu seperti biasa, dengan cuaca yang sedang cerah, selaras dengan hati Agus yang ceria untuk bersekolah. Pantas saja, hari itu adalah hari pertama Agus bersekolah kembali setelah 3 tahun putus sekolah. Masalahnya apalagi kalau bukan karena himpitan ekonomi. Sekarang alangkah bahagianya Hati Agus. Agus tampak bersemangat, keceriaannya seolah membias dari bibirnya yang mungil dengan pipi lesungnya. Mbak Marni, begitulah panggilan sehari-hari Ibu Agus, ikut tersenyum ringan melihat Agus sang tumpuan masa depannya. Dia sangat bahagia dapat menyekolahkan anak semata wayangnya kembali yang merupakan cita-citanya. Dikarenakan Ayah Agus sudah meninggal dunia sejak Agus masih berumur 2 tahun.
Pukul 05:30 itu, Agus akan berangkat. Agus berangkat sepagi itu karena jarak rumah ke sekolah sangat jauh yang ditempuhnya dengan berjalan kaki. Jaraknya saja sekitar 6 km yang ditempuh Agus dalam waktu 45 menit. Tak heran, Rumah Agus saja di pesisir pantai karang Sukapantai sedangkan sekolahnya terpisah beberapa desa tepatnya di Desa Sukakota. Agus berpamitan kepada Marni kemudian langsung bergegas berangkat sekolah. Agus memang tidak sarapan karena memang tak ada sarapan pagi itu, dan mungkin hamper setiap pagi seperti itu, apalagi untuk mengharap uang sekolah, taka da niatan dan harap sama sekali baginya. Yang terpenting bagi Agus adalah dapat berkesempatan bersekolah seperti teman-teman sebayanya.
Pulang sekolah, Agus lantas berganti baju dan minum segelas air saja. Dia melihat ibunya tampak serius membuat jaring. Agus mengira bahwa dia dapat bersekolah kembali dari penjualan jaring yang dibuat ibunyayang baru inidigelutinya. Biasanya sepulang sekolah, agus mencari kerang di pantai sekedar untuk makan sehari-hari. Namun, hari hari ini Agus tidak menjumpai kerang sama sekali. Tak berfikir panjang, Agus cepat-cepat pergi ke Desa Sukakota, Desa yang lebih maju dari desanya sekaligus desa pusat di kecamatan dimana ia tinggal untuk mencari pekerjaan bagi Agus yang baru berusia 12 tahun. Seharian Agus mengitari desa itu, namun tidak ada pekerjaan yang menyambanginya. Agus tampak penat, namun dari langkah kakinya dia terlihat tiada patah harap maupun putus asa dengan hasil perjalanan yang mulia dimata Tuhan Yang Maha Esa itu. Tetapi dengan rasa terpaksa Agus hanya mambawa berita hampa dan senyumnya ke rumah dengan perutnya yang bergelora dikarenakan belum makan seharian.
Di rumah, Agus bergegas mandi dan melihat Marni sedang menggoreng tahu untuk makan malam nanti, sungguh malang nasib Agus yang hanya bisa makan sehari sekali dengan lauk seadanya dan itupun ia sudah beruntung karena kadang-kadang tak makan sehari semalam. Namun, hati agus sungguh murah syukur, Agus tersenyum pertanda rasa bahagia dan syukur kepada Allah swt. Marni pun ikut tersenyum kecil dengan tatapan hangat seorang ibu. Tatapan itu mengingatkan Agus terhadap jaring yang dibuat marni tadi siang. Agus mengira Marni sudah bisa menjual jaring itu, padahal jaring yang tadi belum selesai dibut dan lauk tahu yang tadi adalah lauk pemberian tetangga karena kasihan terhadap keluarganya itu. Tengah malam Agus bersyukur lewat doa setelah shalat malamnya, dia bersyukur sekali sudah diberi rezeki malm itu dan ia berharap hari-hari berikutnya. Tak lupa diapun ikut berdoa supaya dia tetap bisa bersekolah dan mendapat pekerjaan untuk ekonomi keluarganya itu.
Keesokan harinya, seperti biasa Agus pasti bersekolah. Dia bersekolah dengan sangat tekun dijalaninya. Dan kali ini di sekolah, Agus mendapat pelajaran Seni Budaya dan kebetulan hari itu adalah hari praktek membatik. Baru kali itu Agus diajari membatik di sepanjang hidupnya, namun apa yang terjadi sungguh tampakluar biasa. Agus membatik dengan sangat liuknya sampai sampai guru agus termangu untuk beberapa saat melihat tarian batik anak berparas ganteng itu. Maka semuanya pun ikut terheran sangat atas kejadian itu. Entah darimana datangnya kemampuan itu sampai bisa membatik dengan indahnya. Memang Agus pandai menggambar dan sangat tabggap terhadap sesuatu yang baru, tapi kemampuannya itu tak mungkin begitu saja jatuh dari langit. Agus mendapat pujian dari teman-teman dan gurunya. Karena tahu Agus dari kalangan tidak mampu, maka Gurunya yang bernama Pak Kim bertegur bercanda menginatkan Agus jika saja dia mendapat pekerjaan jika menjadi pembatik di salih satu usaha batik di Desa Sukabatik. Maka tak piker panjang bagi seorang Agus, bocah berbadan mungil itu bersegera saja pergi ke Sesa Sukabatik sepulang sekolah. Bahkan tak lama Agus mencari-cari pekerjaan di desa itu, Agus udah mendapat pekerjaan sebagai pembatik dengan bermodalkan keahlian membatiknya itu.
Karena keahliannya itu, tak heran jika hasil kain batik dari tiupan canting Agus itu luar biasa. Lilin, secanting demi secanting dia menggoreskan lilin dengan gemulai kedalam kain putih di depannya. Maka tak jarang orang-orang disekitarnya memanggil Agus dengan sebutan bocah lilin. Lebih-lebih pak reksa, juragannya juga memberi gaji kepada Agus sama sepertu pekerja dewasa lainnya karena memang hasil kain batik Agus memang indah dan dianggap unik oleh orang-orang karena dari tangan seorang bocah saja. Maka tak jarang para consumer memburu hasil kain batik dari Agus. Objek kain batik yang tibuat Agus juga lumayan kreatif dan inovatif, seperti burung-burung, gunung, hewan-hewan khas Indonesia , Kehidupan dan masih banyak lagi. Motif motif itu sangat berbeda dengan hasil pembatik lainnya yang hanya bermotifkan di sekitar tumbuhan dan binatang saja. Namun, yang menjadi andalan agus adalah motif perempuan yang sedang duduk membuat jaring yang terinspirasu saat Agus melihat sang ibu sedang membuat jaring kala kemarin. Namun anehnya, Agus tidak pernah melukiskan pemandangan laut dan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan laut, mungkin karena masa lalunya saja.
Hingga pada suatu hari, saat Agus hendak pulang ke rumah, Agus melihat selebaran yang ternyata didalamnya memuat tentang ajang perlombaan dan pameran lomba karya batik anak-anak nasional. Ajang tersebut diadakan di KKNK (Kebun Kecil Negeri Khatulistiwa) di luar Pulau Jawa di Pelambong. Agus sungguh amat ingin mengikuti perlombaan itu selagi umurnya masih dapat didaftarkan, dibawah usia 15 tahun. Agus hanya tertumpu pada satu kalimat “Juara 1 :Piagam penghargaan + Uang tunai 10 juta rupiah”. Namun apa daya tiada ongkos untuk pergi kesana dan tiada uang untuk biaya pendaftaran. Di benak Agus, dia hanya ingin membantu dan membanggakan Marni saja. Namun, untuk pergi kesana, itu semua memerlukan dana sekitar 400 ribu.
Tapi, bagi Agus itu bukanlah pantangan. Dia tetap harus saja dapat nengikuti ajang perlombaan itu dengan segala cara, cara yang baik tentunya. Lantas, benak Agus tidak patah asa secuilpun. Dia hanya menganggap ada batu kecil di hadapnya. Dia berfikir bisakah dia meminta tolong pada pak Reksa, juragannya. Awalnya ia ragu tetapi tidak ada cara lain selain hal itu.
“Pak Reksa, bolehkah Agus minta tolong?” Tanya Agus kepada Pak Reksa.
“Selagi bisa mengapa tidak toh nak Agus, minta tolaong apa?” Pak Reksa bertanya kembali.
“Nyuwun sewu ya pak sebelumnya, apakah bapak berkenan memberikan saya gaji di bulan ini pak, walau saya tahu belum satu bulan genap saya bekerja Pak. Karena saya sangat amat membutuhkannya” pinta Agus.
Pak Reksa tersenyum, dan baru saja akan menjawab, namun agus cepat-cepat berkata, “Mohon maaf, Pak. Saya memang tidak tahu diri. Sudah diberi pekerjaan disini malah minta yang aneh-aneh” jawab Agus.
“Tidak, nak. Jika nak Agus membutuhkannya saya akan memberi. Memangnya berapa dan untuk apa toh nak, jika Bapak boleh tahu?” Tanya Pak Reksa seraya tersenyum ramah
Kemudian, Agus menjelaskan yang terjadi. Agus memang hanya ingin meminta gaji seadanya dulu. Maka Pak reksa memberikan Agus uang 200 ribu. Itupun pak reksa sedang berbaik hat kepada Agus, memberinya uang lebih yaitu uang sebesar tadi walau Agus baru bekerja 13 hari saja, mungkin Pak Reksa memberi Agus juga dengan niat bersedekah. Sisa uang yang kurang 200 ribu. Agus bingung hendak mencari keman uang itu, lebih lagi ajang itu tinggal kurang 5 hari lagi.
Seketika agus di rumah dan saat itu Agus sedang shalat malam. Marni mendengar Agus sedang berdoa kepada Allah dia ingin diberikan rezeki entah dariman datangnya untuk membiayai segala hal untuk pergi ke ajang perlombaan itu. Tampaknya Marni merasa bangga dengan anaknya atas keinginannya itu. Namun setelah itu, Marni bertanya seluk dan beluk ajang yang akan diikuti Agus. Marni tercengang sesaat yang kemudian sangat merasa bersalah dan berdosa. Di otaknya terbesit mengapa ia tidak membantu Agus saja. Karena ia berfir kenapa ia terus yang ditolong Agus dan tak petnah ia menolong Agus. Marni seakan melayang hendak terbang sampai jauh diatas lambaian apungan kayu yang bergoyang di kegelapan sang waktu hitam tabur bintang kan menjadi pembajak laut kokoh.
Walaupun sebenarnya, Marni sangat takut teringat masa lalunya yang seolah menghentakkannya sesaat. Namun, Marni berusaha menepisnya jauh jauh serta memperkokoh hati, memperpondsikan raga tukjadi pembajak lautan wanita perkasa samudra benua. Benar, memang malam itu juga marni hendak akan melaut disaat Agus tertidur pulas dengan wajah murung Agus yang seolah melarang Marni untuk pergi melaut. Tapi bagai karang di laut, Marni tetap melakukan hal ini demi penghuni ayunannyanselama ini.
Marni berlayar ditemani perahu kecil warisan suaminya dahulu. Marni berlayar yang dipermainkan angina darat yang dihempaskan menuju rembulan di seberang sana dan menghilang seakan ditelan ombak yang bersahut-sahutan. Harapannya adalah membawa ikan yang ruah untuk dijialnya ke pasar demi memenuhi keinginan sang buah hati.
Pagi benar Agus sudah membuka matanya. Seperti biasa dia sedang shalat dan bersegera bersiap dengan alat-alat sekolahnya. Tetapi, Agus tidak menemui Marni pagi itu. Namun, Agus tak heran mungkin dikiranya Marni ke pasar menjual jaring buatan Marni itu. Agus tidak tahu jikalau Marni sedang terbakar niatan hendak membahagiakannya dan membuatnya tersenyum bangga.
Jam 1 siang tepat, lonceng sekolah berbunyi seakan mengusir Agus ke rumahnya yang lantas seperti biasa makan dan menuju ke pekerjaan yang dicintainya. 5 jam waktu yang dilalui bersama kain putih Agus pulang ke rumah dengan langkah kaki yang mengendor, namun ketika Agus sampai di rumah, langkah itu berubah menjadi tegang tegak tak bergerak, Agus langsung tercengang dengan Marni. Benar saja, Agus melihat Marni tersenyum memberikan Agus segenggam uang yang jumlahnya 130 ribu. Agus segera memeluk dan tenggelam dalam ayunan Marni.
Namun, senyuman Marni belum bisa terbuka sempurna dan nafasnya belum bisa lega. Di pundaknya, masih terpikul beban uang 70 ribu lagi yang merupakan tanggung jawabnya lagi bagi Agus. Maka, malam itu Marni tetap melaut ke tengah Teluk Pantaisukasuka seperti kemarin, namun hasil perolehan ikan kala itu kurang memuaskan dan kurang bisa memberi uang cukup bagi Agus untuk ajang batik itu. Dan anehnya saat Marni hampir tiba di pinggir laut, pohon-pohon di teluk itu sedang melambai-lambai seakan tanda perpisahan kepada Marni. Dan siang keesokan harinya, Marni.
Dan siang keesokan harinya, Marni pulang dan menemui Agus dengan wajah kurang bahagia dan memberikan uang 50 ribu lagi yang diserahkan dengan sangat segan untuk itu. Agus memang anak yang qanaah lagi murah syukur. Agus benar-benar dibuat riang oleh Marni walau Marni sendiri tak merasa membanggakan Agus sama sekali. Agus bahkan melayang ke fantasinya meluncur bareng paus akrobatik menuju rasi bintang paliiiing manis, yaitu Marni.
Walaupun begitu, Marni tetap merasa belum cukup, benar saja sedangkan uang Agus hanya kurang 20 ribu saja untuk pembiayaan ajang batik. Agus berkata dia mempunyai uang sendiri jika hanya 20 ribu. Jadi 2 hari lagi Agus jadi berangkat. Tapi dalam benak Marni terpikir bahwa dia tetap akan melaut saja demi semifinal 20 ribu rupiah itu.
Malam itu Agus hendak makan bersama Marni. Karena Marni tidak memasak hari itu, Agus hendak membeli mie instan di warung terdekat dari rumahnya. Agus membeli 2 mie instan untuknya juga untuk Marni. Di rumah, tanpa dikomando oleh Marni lagi Agus pun membuat mie itu di dapur rumah gubuknya. Namun, ketika Agus hendak mengambil air dibelakang, Agus kaget saja dan langsung tersentak habis-habisan melihat jaring disana. Agus tersentak memang karena jaring itu adalah jaring yabg dibuat Marni dahulu. Agus memang hafal mentah-mentah dengan jaring itu. Warna, bentuk dan segalanya pun sama. Maka dari itu, Agus yakin benar dengan perasaannya saat ini.
“Maka, uang apa yang dimakannya selama hari-hari ini?” tanyanya dalam hati.
Malam itu, Agus benar-benar tenggelam dalam ketakutan. Setelah makan, Agus jadi tidak bisa tidur pulas saat itu pula. Jam 1 malam tepat pun Agus jadi kembali terbangun, Agus mendengar suara bising hujan yang menggetarkan dadanya. Ternyata hujan turun deras bagai badai, yang menjalari raganya kala itu. Dia melihat keluar rumah melalui jendela kamarnya, sungguh sangat deras dan seperti badai yang menakutkan. Setelah itu, Agus juga tertidur kembali yang malah bermimpi melihat ibunya sedang jatuh sakit.
Dibukalah mata Agus ketika itu secara cepat kilat dan terhantui sekali dengan itu, namun Agus lantas pergi shalat. Setelah itu, karena dia terus dibayang bayangi oleh Marni, Agus segera mencari bunda terkasihnya itu di kamarnya, ternyata marni tidak ada. Tak puas dengan itu, Agus juga mencari jaring yang kemarin dan tidak ditemuinya pula. Agus merintih dan menangis kecil didalam hatinya, dia hanya memikirkan Marni apakah ibunya selamat atau sedang terkena badai malam tadi. Karena disini, Agus sudah yakin sekali jikalau Marni sedang melaut malam ini dan malam-malam yang lalu. Agus pasrah saja kepada Allah, dan akan selalu berdoa serta selalu menunggu kedatangan Marni.
Agus menunggu Marni pagi itu, namun karena pagi itu Agus harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang siswa, ya tentu saja pergi sekolah. Maka daripada Agus menunggu tnpa sesuatu hal pun yang bisa dikerjakan, akhirnya Agus pergi ke sekolah. Tetapi, di sekolah pikirannya hanya terisi keresahan penantian kondisi Ibu tercintanya itu
Pulang sekolah, Agus pulang ke rumah dengan langkah kakinya yang sangat berat. Pantas saja, dia akan segera menemui jawaban, yaitu Marni sudah pulang dengan sehat atau Marni pulang dengan kondisi habis terkena badai, dan banyak lagi yang dipikirkan Agus. Tapi langkah kaki Agus semakin berat saja menuju rumah, namun seketika berubah menjadi cepat bahkan berlari kencang setelah melihat rumahnya ada banyak orang. Kegelisahan itu makin tak berujung ketika sampai di rumah dan melihat Marni sedang tergeletak pingsan di kursi rumahnya itu. Pak Sarep, warga desa setempat yang sedang jalan-jalan di pantai jauh dari desa Sukapantai ini, sudah menemukan Marni pingsan dalam perahunya yang terkena badai dan setengah rusak itu.
Dibawanya Marni ke Rumah Sakit terdekat dengan mobil Carry merah milik pak Sarep. Perjalanan menuju Rumah Sakit di kota sungguh lamayang harus menempuh waktu sekitar 45 menit,, karena desa Agus yang jauh dari pelayanan kesehatan. Mungkin karena selam itu, jika kondisi parah maka sering terjadi kematian di perjalanan dan itu sering terjadi pada warga desa Sukapantai itu. Dan karena itu, Agus sangat takut…, dia takut kejadian fatal itu menimpa bunda tersayangnya itu. Ternyata, Marni terbangun dan seperti ingin berkata, namun masih terbata-bata dengan menyebut syahadat. Agus sekarang benar-benar menangis, rasanya tak kuat jika harus menahan air matanya itu.
Dan Marni berkata,“Ag, Ag, Agus… (menarik nafas dalam), jadilah anak yang baik nak”
“Kamu harus berangkat besuk (jangka waktu lama sambil berdzikir), kamu pasti bisa, mandirilah anakku, dan kamu pasti akan suk, suk, suk, (nafas Marni mulai sesak dan ia memegang dadanya)ses”, kata terakhir Marni pada Agus
Agus menangis terpukul menjadi-jadi benar dan tak karuan. Sekarang, dia sedang memangku sang bunda yang sudah bergelar almarhumah itu. Tak disangka marni akan meninggalkannya. Sorot matanya mengucur air mata bak lelehan salju yang lembut. Setelah mengantarkan dan menunggu pemakaman jasad sang bunda, dan setelah para takziah pulang ke rumahnya masing-masing, hanya tinggal dia dan Pak Sarep saja.
“Sabar, nak. Ini ujian. Kesabaranmu ini akan berbuah manis nanti. Janganlah engkau ratapi dan tangisi lagi. Biarlah badai berlalu, kamu anak kuat, ikuti pesan terakhir ibumu.” , petuah Sarep
Agus tetap menangis saja, seolah tidak memperdulikan Sarep. Pantas saja, bayangkan seorang anak berusia 12 tahun sudah kehilangan sang bunda yang dulunya juga sudah kehilangan ayahnya. Sekuat apapun aagus jika sudah kehilanggan Marni akan jatuh juga.
“Ia pak, terima kasih.” Jawab Agus tiba-tiba
Melihat Agus, rasanya tak kuat batin dan tak kuat menahan haru jadinya.
“ Gus, kemarilah(Agus mendatangi Sarep). Mulai sekarang, kamu jadi anak bapak. Bapak tidak tega melihatmu sebatang kara. Setidaknya ada seseorang yang mengurusmu. Kebetulan, kan Pak Sarep juga belum mempunyai keturunan.” Pak Sarep memang belum mempunyai anak padahal umur pernikahannya sudah 7 tahun, atau mungkin tidak bisa mempunyai anak.
Agus terdiam sesaat, memutar segala yang terjadi. Dengan beribu pertimbangan, akhirnya ia mau juga menjadi anak Pak Sarep. Setidaknya, pak Sarep adalah orang yang sangat baik dan saying kepada Agus sedari kecil. Lalu, Agus memeluk Sarep dan begitu juga sebaliknya.
Pulang dari pemakaman, Agus bersama Pak Sarep pergi ke rumah Agus untuk mengemasi barang Agus lantas pergi ke rumah Pak Sarep untuk tinggal bersama. Agus dikenalkan dengan Bu Sarep (sebenarnya namanya Rini) dan sebenarnya Agus juga sudan mengenal Bu Sarep. Bu Sarep orangnya juga baik sekali dan menyayangi Agus sepenuh hati, seperti anaknya sendiri.
Keesokan harinya, Agus berangkat ke Pelambong bersama Sarep pukul 5 pagi tepat. Rini(Bu Sarep) tidak ikut karena harus di rumah. Mereka pergi ke Pelambong mengendarai mobil milik Pak Sare p. Perjalanan melalui kota Taban ke kota Bala lalu ke kota Betewi dan langsung ke Pelambong lewat jalur juga. Perjalanan itu menempuh waktu sekitar 16 jam. Mereka disana sekitar jam 9 malam. Setelah itu, mereka menyewa penginapan dan segera beristirahat. Dan semua biaya itu ditanggung oleh Sarep, ayah baru Agus yang sangat dicintainya. Bahkan, uang Agus yang dari Marni disuruh disimpan saja oleh Sarep. Maklum, Sarep adalah orang yang cukup berkecukupan di desa Sukapantai.
Keesokan harinya, mereka pergi ke ‘Ajang Lomba Dan Pameran Batik Nasional’ di Gedung Seni kota Pelambong. Agus melihat disana-sini sangat ramai oleh peserta lomba, padahal baru sampai di gapura gedung itu. Bahkan, Agus juga melihat sejumlah wartawan televisi swasta. Setelah sampai di area pendaftaran, Agus mengisi formulir pendaftaran sedangkan Sarep membayar biaya pendaftaran. Lalu, Agus mendapat nomor peserta 98.
Setelah semuanya beres, Agus segera masuk area lomba tanpa Sarep, karena tidakboleh jika harus ditemani Sarep. Jam 8 tepat, Agus segera masuk area lomba membatik, disana juga sudah tersedia berbagai macam peralatan membatik. Setelah semua peserta siap, panitia segera mengumumkan syarat, tema dan tata tertib lomba. Dan ternyata tema kali ini adalah ‘Flora & Fauna’ . Agus bingung hendak membuat apa. Maka jam 08.15, lomba dimulai dan semua peserta sudah bekerja. Namun, Agus masih berpikir saja terus.
Tak berpikir panjang saja bagi Agus, Agus lantas menggambar ikan di laut serta daun batik laut yang indah. Agus dengan liuknya menggoreskan lilin panas pada kain putih, lalu mewarnainya setelah itu. Pukul 09.45, semua peserta diperkanankan keluar arena perlombaan dan saatnya dewan juri professional yang menentukan.
Setelah itu, Agus menemui Sarep dan yang sekarang sedang bercakap-cakap.
“Bagaimana Agus, tadi menggambar apa?” Tanya Sarep.
“Hanya menggambar ikan dan kuhiasi dengan dedaunan batik laut kreasiku sendiri, habis temanya saja ‘Flora dan Fauna’ dan yang di benakku hanya itu saja, jadi kugambar saja. Sudahlah yah, aku tidak akan menang” ujar Agus sambil cemberut.
“Tidak usah begitu lah, Gus. Kamu pasti bias masuk 10 besar(final) nanti. Kamu menggambar apa saja, pasti hasilnya bagus nanti.” Petuah Sarep.
“Ya ayah, tapi anak lain menggambarnya bagus-bagus. Ada yang menggambar merak, burung, bunga dan banyak lagi yang bagus-bagus. Tapi aku…”
Namun, Sarep langsung menutup mulut Agus seraya berkata,”Kamu pasti bisa !!!, ingat kata ibumu saat-saat terakhir bersamamu”
Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba, yaitu hasil pengumuman babak penyisahan. Dari 231 peserta, Agus setidaknya harus menjadi peringkat 10 jika ingin masuk final dan menjadi juara. Setelah Agus pergi ke papan informasi untuk melihat hasilnya, ternyata Agus berhasil menjadi peringkat 9 dan selamat karena masih bias masuk ke babak semifinal. Dia bersyukur sekali masih diberi kesempatan oleh Allah. Untung saja kan, dia masih bias mengikuti babak final nanti. Agus kembali dan berbincang dengan Sarep, serta tak lupa ucapan selamat yang keluar dari mulut Sarep. Sarep pun terus memberikan Agus dorongan dan motivasi dan petuah lain yang bias meningkatkan semangat Agus sehingga Agus bias menjadi juaranya. Jadi, mereka bersegera shalat dan meminta kepada Allah. Agus berdoa dengan sangat-sangat serius dan ingin menjadi juaranya. Dia tak ingin mengecawakan Sarep dan seluruh yang mendukungnya, terutama Marni yang sudah di alam sana. Apalagi dengan pengorbanan dahsyat yabg selam ini, Agus tidak mingin mensia-siakannya. Maka semangat Agus menjadi semangat, semangat menggebu-gebu.
Jam 12.15, Agus besertake dembilan peserta lainnyaa yang masih bertahan sudah ada di tempat perlombaan. Agus tengok kanan dan kiri, “Inilah pesaingku yang hebat-hebat”, batin Agus. Barulah jam 12.30, lombanya dimulai. Diumumkan tema yang kedua, namun dalam final ini terdapat 2 tema yang harus dikerjakan selama 2 jam. Semua peserta bergumam, tetapi tidak dengan Agus. Agus yakin dia pasti bias demi ibunya. Apalagi ini demi Almarhumah Ibunya juga, poasti dia akan mengorbankan semangat dan kekuatan. Tema pertama : Kehidupan Indonesia dan tema kedua : Keluarga.
Agus lantas tak buang-buang waktu sedikitpun, dia segera mengerjakan tema yang yang pertama, begitu juga dengam peserta yang lain. Namun, Agus Nampak begitu semangat. Dengan cepat Agus menggambar perempuan yang sedang membuat jaring yang latar belakangnya yang bergambar perahu kecil rongsok di pinggir laut, ditemani sang bulan dengan cirri khas batik yang mencolok. Bahkan dengan waktu 30 menit, Agus sudah dapat menyelesaikan tema pertama.
Agus bergeser menuju tema yang kedua setelah menyelesaikan tema pertama, dan ternyata sekali lagi juga berhubungan dengan ibindanya. Agus menggambar seorang perempuan yang tertidur di pangkuan bocah cilik yang sedang menangis. Dan dibelakang sudah ada sepasang suami istri menunggu bocah cilik itu, di dalam pekatnya pasir pantai. Ya, itu juga cerita nyata Agus. Lantas, dia newarnai batiknya, menaruhnya si ruangan pengering dan bersegera menyerahkan hasil kain batik kepada dewan juri sementara peserta lainnya belum ada yang menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Dewan juri memuji Agus karena dapat menyelesaikan batiknya dengan waktu singkat dengan hasil yang bagus. Maka, sewan juri memanggil Agus dengan sebutan ‘Penari Batik’.
Setelah selesai, Agus kembali ke Sarep dan dalam keadaan sumringah. Sarep tahu agus akan memberikan yang terbaik dan Sarep pun ikut sumringah. Jam 3 adalah saat-saat yang paling ditunggu-tunggui oleh semuanya. Saat pengumuman diatas panggung, panitia mulai membacakan pemenangnya. Mulai dari harapan 3,2,1 dan Agus tidak disebutkan. Agus menunggu 3 besar.
“Juara ke 3 adalaaaah, Zunea Patra dari Molamboh(suara tepuk tangan dan Zunea segera menuju keatas panggung)”
“Sekarang, juara ke 2,, yaituuuu Putra Angkasa dari Joukarta(suara tepuk tangan yang lebih meriah dan Putra segera menuju keatas panggung)”
“Dekarang saat yang paling menegangkan. Sang juara kita adalaaaaaaah…(Agus sudah deg-degan) Agus Supraptono dari Taban. (suara tepuk tangan yang paling meriah dan Agus segera menuju keatas panggung)”
Setelah ketua panitia memberikan piagam kepada seluruh peserta dan disusul hadiah uang. Uang 10 juta jatuh kepada Agus Supraptono. Agus senang tak karuan. Setelah acara selesai, Agus banyak mendapat ucapan selamat dari berbagai pihak. Dan saat Agus hendak pulang ke kampong halamannya bersama Sarep, ternyata ada 2 wartawan hendak mewawancarai Agus, tentu saja Agus menjawab bersama Sarep juga. Dan ternyata kedua wartawan itu mengundang Agus kesalah acara di televise swasta. Akhirnya, senyuman itu… mulai keluar dari wajah Agus.
Setelah itu, Agus pulang. Di mobil, Agus sangat bersyukur dan berkata,”Ini untukmu, ibu. Aku sudah buktikan Aku bias. Terimakasih, ibu” Sarep melihat Agus sambil mengendarai mkobil dan Akhirnya, senyuman itu dating lagi kepada bocah yabg baru ditinggal ibunya itu.
Di rumah, Agus memberikan uang hadiah tadi kepada orang tuanya, yakni Sarep dan istrinya. Dan Sarep berkata, “Ayah tahu uang ini akan kita jadikan apa. Kamu pasti senang Gus”
“Untuk apa ayah?!” Tanya Agus penasaran.
“Untuk membuka usaha batik baru di desa ini, dan kau menjadi pembatik utamanya, Gus” ucap Sarep
Agus tersenyum dan memeluk Sarep erat-erat.. Akhirnya, senyuman itu… dilihat Sarep kembali dan bias bertahan. Sarep yakin ini adalah hasil buah manis kesabaran Agus selam ini, Agus… Akhirnya, senyuman itu tetap ada walau setelah adanya jemputan dari wartawan. Ya, Agus pergi menghadiri di acara televise yabg bertajuk ‘Bocah Berprestasi’.
Kehidupan Agus dimulai kembali setelah kemenangan itu. Agus menjadi siswa yabg berprestasi dan menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya. Kehidupan sekarang juga dilaluinya sebagai Penari Lilin dan pembatik professional Semoga usah itu berkembang menjadi sangat sukses san semoga…. Senyuman penari lilin itu tetap ada sampai akhir hayat hidupnya.